Rapor Kinerja Program KB Jabar Tahun 2014 Masih Merah
Tak terasa tahun 2014 bakal berakhir 10 hari lagi. Saatnya mengukur
kinerja program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan
keluarga (KKBPK) di Jawa Barat, provinsi dengan jumlah penduduk paling
jumbo di tanah air. Caranya mudah saja. Mari mencocokkan capaian itu
dengan segepok rencana yang telah diketok pada awal tahun lalu.
Angka-angka itu mengemuka dalam media gathering yang dihelat
Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
Jawa Barat di sebuah r
Seperti apa wajah pembangunan KKBPK di Jawa Barat tahun ini telah
dipetakan dengan jelas pada saat Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Program
KKBPK Tahun 2014 di Hotel Karang Setra, Jalan Bungur No. 2, Kota
Bandung, 25 Februari 2014. Ada 17 indikator kinerja yang kudu dipenuhi
pengelola program KKBPK di Jawa Barat. Mari kita review sejenak angka 10 bulan lalu itu.
Mengacu kepada dokumen Rakerda, perkiraan permintaan masyarakat (PPM)
atau target peserta baru program keluarga berencana (PB) berjumlah
1.325.430 peserta. Jumlah ini melengkapi jumlah peserta aktif (PA) yang
ditargetkan terpenuhi pada akhir 2014 sebanyak 5.813.856 peserta. Dari
target tersebut, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) Perwakilan Provinsi Jawa Barat mem-break down lagi
menjadi dua bagian, PB untuk KB metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP)
sebanyak 415.619 peserta dan 909.811 peserta non-MKJP.
Hasilnya, laporan hingga November 2014 kemarin, secara keseluruhan PB
yang berhasil dicapai cukup menggembirakan, mencapai 1.285.034 peserta
atau 96,95 persen dari target semula. Sayangnya, proporsi MKJP dan
non-MKJP masih sangat jomplang. MKJP yang meliputi IUD, implant, metode
operasi pria (MOP) atau vasektomi, dan metode operasi wanita (MOW) atau
tubektomi ini hanya mampu memenuhi 234.670 peserta atau hanya 56,46
persen dari target. Dari perspektif gender, rupanya perempuan masih
menjadi penyumbang utama peserta KB. Dari 1.285.034 peserta baru, hanya
36.812 pria yang berpartisipasi dalam program KB. Itu pun sebagian besar
di antaranya masih menggunakan kondom.
Bila dirinci lebih jauh, peserta baru KB MKJP di Jawa Barat hanya
berkisar pada angka 18 persen. Jabar pun belum berhasil melepas predikat
“Ratu Suntik” karena lebih dari setengah peserta KB baru di Jawa Barat
masih memilih menggunakan suntik (54 persen). Perempuan Jabar juga masih
peminum setia pil KB. Ada 323.216 perempuan atau 25 persen dari total
peserta batu KB yang memilih pil. Tambahan peserta anyar ini tak mampu
mengubah konstelasi peserta KB aktif secara keseluruhan yang memang
masih didominasi suntik (53 persen) dan pil (24 persen).
Laporan juga menunjukkan, ternyata Jawa Barat masih memiliki
1.321.204 pasangan usia subur (PUS) yang belum terlayani menjadi peserta
KB atau unmet need. Artinya, ada sekitar 19,91 persen PUS yang
potensial menjadi peserta KB. Nah, awal tahun lalu BKKBN menargetkan
mampu memangkas jumlah unmet need menjadi 599.997 PUS saja atau
6,80 persen dari total PUS. Catatan buram lainnya, Jawa Barat tak
kunjung berhasil mendorong terbentuknya Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Daerah (BKKBD) selain Kabupaten Sukabumi.
Yang menarik, kelembagaan mumpuni yang dimiliki Kabupaten Sukabumi
tampaknya belum mampu mendongrak kinerja pencapaian PB. Dibanding daerah
lain, kabupaten paling luas se-Jawa dan Bali ini baru berhasil memenuhi
target PB sebanyak 55,33 persen yang berarti paling buncit di antara 27
kabupaten dan kota di Jawa Barat. Di atas Sukabumi yang juga mencatat
angka merah adalah Kabupaten Subang (63,40 persen) dan Kota Bekasi
(65,58 persen). Sebaliknya, Kota Cirebon nyaris menggandakan target PB
dengan angka fantastis 191,58 persen pencapaian terhadap target PB. Di
bawah Kota Cirebon berturut-turut Kabupaten Karawang (151,41 persen) dan
Kota Tasikmalaya (151,02 persen).
Terhambat Alat Kontrasepsi, Transisi JKN
Nah, potret buram pencapaian peserta KB baru pernah dikeluhkan Kepala
Perwakilan BKKBN Jawa Barat Sugilar saat berbicara pada pembukaan Rapat
Konsolidasi Pembangunan KKBPK di Hotel Gino Feruci Braga, Jalan Braga,
Kota Bandung, belum lama ini. Selain berkeluh-kesah ihwal keterlambatan
alat kontrasepsi, Sugilar juga mengeluhkan data kepesertaan KB di
provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia ini.
“Capaian PB atau peserta baru KB kita hampir 700 ribu per tahun. Sayangnya, angka drop out (DO) hampir 800 ribu. Kalau begini caranya, kita rugi bandar. Kalau DO akibat menopause, itu nggak
masalah. Itu memang seharusnya begitu, berhenti menjadi peserta KB.
Yang jadi masalah adalah DO akibat penggunaan kontrasepsi jangka pendek.
PB naik terus terus, tapi PA tidak naik signifikan,” keluh Gilar,
sapaan akrabnya.
Betapapun cakupan program KB atau KKBPK meluas, sambung Gilar, namun
parameter keberhasilan KB tetap pada angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR). Semakin kecil angka TFR, semakin berhasil program KB. Nah, TFR bisa turun manakala kepesertaan atau contraceptive prevalence rate (CPR) naik stabil. Sebaliknya, bila CPR tak kunjung naik, maka sulit menurunkan TFR. CPR sendiri tidak akan naik bila PB tidak naik.
Masalahnya ternyata tidak sesederhana itu. Ketika jumlah PB akan
digenjot dan CPR dipelihara, ternyata ketersediaan kontrasepsi tak
mendukung ke arah itu. Pengadaan alat dan obat kontrasepsi yang
ditangani pemerintah pusat sangat lamban.
“Jujur saja kontrasepsi masih yang utama. Kita Kalau kita ingin lari tapi nggak
ada alkon (alat kontrasepsi, red), bohong juga. BKKBN pusat menjanjikan
katanya implant datang pertenganan bulan ini. Saya sendiri kenal dengan
pengusahanya, karena itu saya minta kiriman pertama harus ke Jawa
Barat,” tandas Sugilar.
Mantan Kepala Biro Keuangan dan Barang Milik Negara BKKBN Pusat ini
menekankan bahwa setiap PB penambahan harus bermakna bagi peningkatan
kualitas. Untuk itu, perlu didorong agar PB menggunakan MKJP. Penekanan
kualitas juga berlaku untuk data. Artinya, data yang dilaporkan
benar-benar aktual dan sesuai dengan fakta di lapangan. “Setiap dana
yang keluar harus diperhatikan output-nya,” tegas Gilar.
Di sisi lain, karut-marut pelayanan KB juga tidak lepas dari
hiruk-pikuk pemberlakuan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Jaminan
turunan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) ini berlaku efektif 1
Januari 2014. Sistem ini mengamanatkan bahwa BKKBN hanya bertugas pada
pengadaan alat dan obat kontrasepsi (Alokon) dan penggerakkan calon
peserta. Adapun pelayanan harus dilakukan di fasilitas kesehatan yang
sudah bekerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
Kesehatan.
“Kondisi ini mempengaruhi pelayanan mobile yang biasa
dilakukan secara terpusat melalui Mobil Unit Pelayanan (Muyan) milik
BKKBN dan SKPD KB di kabupaten dan kota. Pelayanan juga harus
betul-betul memenuhi standar pelayanan kesehatan. Artinya, tidak semua
tempat bisa menjadi tempat pelayanan KB. Ini cukup merepotkan,” ujar
Gilar.
Keluhan serupa sempat mengemuka dari Kepala Badan Pemberdayaan
Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, dan Keluarga Berencana (BPMKB) Kota
Cimahi Maria Fitriana saat ditemui di sela “Festival KIE Jawa Barat
2014” di kawasan Brigade Infanteri (Brigif) 15 Kujang, Kota Cimahi belum
lama ini. Perempuan yang akrab disapa Pipit ini mengaku kesulitan
memanfaatkan konsentrasi massa untuk keperluan pelayanan KB. Padahal,
pihaknya sudah memboyong Muyan KB ke tengah pasar kaget tersebut.
“Di era JKN ini memang mekanismenya berbeda. Kita tidak bisa begitu
saja memberikan pelayanan KB kepada masyarakat. Sesuai mekanisme JKN,
pelayanan KB harus dilaksanakan di fasilitas kesehatan. Sayangnya,
pelayanan tidak bisa massif dilaksanakan. Paling dalam sehari hanya bisa
melayani 2-3 orang. Namun begitu, kami terus berupaya mengedukasi
masyarakat untuk menjadi peserta KB dengan kesadaran sendiri berdasarkan
informasi yang mereka dapatkan secara tepat pula,” papar Pipit.(NJP)

0 komentar :
Posting Komentar